Sampah adalah sisa atau limbah dan suatu kegiatan yang berwujud padat baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak terurai dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2003). Segala macam makhluk/ organisme yang ada di alam ini selalu menghasilkan sampah atau bahan buangan, dan penghasil sampah terbesar di alam ini adalah manusia. Sebagian besar sampah yang dihasilkan oleh organisme yang ada di alam ini bersifat organik, kecuali sampah yang berasal dari aktifitas manusia yang dapat bersifat organik maupun anorganik. Jumlah sampah hasil aktifitas manusia di Indonesia, terbesar dihasilkan oleh penduduk Jakarta diikuti oleh Surabaya, Bandung, Semarang, Medan dan kota lainnya. Sampah yangdihasilkan penduduk DK Jakarta sejumlah 26.75m 3 /hari (Dinas Kebersihan DKI, 1996). Sedangkan lahan untuk tempat pembuangan sampah sementara ( TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA) jumlahnya sangat kurang. Dalam skala lebih luas, sampah perkotaan di Indonesia tahun 1993 mencapai 4,5 juta ton per juta ton. Puluhan miliar dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi hanya untuk menangani sampah. Sebagai gambaran dapat dipaparkan bagaimana Pemerintah DKI Jakarta menghadapi permasalahan sampah dalam menyediakan dana operasi dan pemeliharaan prasarana persampahan. Dalam tahun Anggaran 96/97 Dinas Kebersihan mengalami defisit biaya operasional sebesar Rp.27,2 milyar. Hal ini dikarenakan untuk menangani sampah ± 800 ton/hari memerlukan investasi Rp. 60 milyar pertahun (Chalik, 2000). Biaya perawatan peralatan dan distribusi sampah pun sangatlah besar, sehingga memerlukan perhatian serius alternatif pengelolaan sampah yang murah dan ramah lingkungan, dengan melibatkan peranserta masyarakat. Pemanfaatan cacing sebagai organisme pengurai sampah organik merupakan terobosan baru untuk mendapatkan pupuk organik yang aman lingkungan dan menghasilkan kandungan hara yang optimal. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap pupuk organik yang diperoleh dengan cacing ini (disebut dengan kascing) diperoleh kandungan unsur hara seperti C, N, P, K, S, Ca, Mg, Fe, Mn, Al, Cu, Zn yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah (Palungkun, 1999). Proses pengelolaan sampah dengan menggunakan cacing mi memberikan manfaat ganda, karena cacing yang menggunakan sampah sebagai konsumsinya dapat berkembangbiak dan dapat dipasarkan dengan nilai ekonomi yang tinggi karena dapat memberikan kemanfaatan yang cukup besar untuk pengobatan dan kosmetik. Dengan cara-cara tersebut maka dapat pula diperoleh nilai ekonomi ganda dan pengelolaan sampah dengan menggunakan cacing tersebut, yang pertama dari hasil pupuk organik dan yang kedua dan hasil budidaya cacing. Dengan pertimbangan ini proses pengelolaan sampah dengan menggunakan cacing sebagai salah satu organisme pengurai sampah organik dapat dijadikan salah satu altematif untuk diterapkan di masyarakat.
Muhtadi*, Djumadi**, Muhammad Da’i*
*) Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta
**) Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UMS

Kantor:
Jalan Kota Mas I no. 18 Perumahan Kota Mas, Kota Cimahi Jawa Barat Indonesia
Telp 022 86601258 fax : 022 86601260 Hp : 0878 2191 8877
Email: info@bengkelden.com